Tampilkan postingan dengan label Profile Aircraft Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profile Aircraft Review. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Oktober 2012

Mikoyan Gurevich MiG-35 Fulcrum-F : The Next Generation Fulcrum Variants

Debut pertamanya pada Aero India 2007 cukup mengundang perhatian banyak orang. Pesawat ini sudah pasti menjadi kekuatan baru bagi armada udara Rusia. India sebagai pelanggan Fulcrum telah menunjukkan pula keinginan kuat untuk mengakuisisinya. 

Pengembangan MiG-29M/M2
Tampilan MiG-35 (NATO = Fulcrum-F) sebenarnya sudah tidak asing lagi bagi para pengamat dirgantara. Bentuknya identik dengan varian MiG-29 lainnya, hanya saja muatan teknologinya lebih canggih. Sebagai pengembangan dari MiG-29M/M2 Fulcrum-E, varian MiG-35 memang memiliki banyak keunggulan dan disiapkan untuk menjadi pengganti bagi armada lawas MiG-29 Fulcrum-A maupun pesawat lainnya yang sekelas. Kapasitas bahan bakarnya lebih besar dari Fulcrum-E dan dilengkapi empat sistem fly by wire untuk sistem kontrol terbangnya. Kemunculan proyek MiG-35 sendiri tidak lepas dari campur tangan Menteri Pertahanan Rusia (Sergei Ivanov) yang ingin mengaplikasikan perangkat penjejak bernama optical locator system (OLS) lansiran NII-PP dan radar AESA Zhuk-AE rancangan NIIR Phazotron pada pesawat tempur garis depan Rusia. Singkatnya, RSK MiG kemudian mengeluarkan varian MiG-35 (single seat) dan MiG-35D (two-seat). Karena dirancang sebagai pesawat multi-misi, MiG-35 juga mengadopsi sejumlah teknologi dari varian MiG-29K/KUB Fulcrum-D yang beroperasi dari kapal induk.

Varian awak ganda MiG-35D Fulcrum-F sedang melakukan akrobatik udara pada acara MAKS 2007. Sebagai ajang promosi, pada tahun itu juga pihak RSK MiG memboyong MiG-35D pada acara Aero India 2007.

Varian MiG-29M Fulcrum-E yang menjadi dasar pengembangan MiG-35. Pihak MiG OKB mengembangkan MiG-29M sejak tahun 80an, namun batal diproduksi massal karena bubarnya Uni Soviet dan munculnya resesi ekonomi di Rusia pada awal tahun 90an.

Sistem Avionik & Persenjataan
Untuk urusan avionik, MiG-35 dijejali dengan barbagai perangkat sensor terbaru. Salah satunya adalah adalah perangkat OLS yang dihubungkan dengan helmet-mounted target designation system dan ground controlled interception (GCI). Ketepatan deteksi dari perangkat ini sangat mengagumkan. Bukan hanya target di udara saja, target di permukaan bumi macam tank atau kapal perang bisa dideteksi dengan ketepatan tinggi dari jarak yang tidak mungkin dilihat mata telanjang. Display-nya pun dapat dipilih dalam mode inframerah, TV, atau kombinasi keduanya. Karena itu pilot MiG-35 bisa melihat tampilan target beserta informasinya melalui tiga layar LCD multi-function display (untuk varian MiG-35D, pada kokpit WSO dipasang empat LCD) berwarna. Kemampuan deteksi OLS sendiri secara garis besar adalah :

Untuk target di udara
  • Dapat mendeteksi target tanpa gas afterburning dari jarak 45 km.
  • Mengidentifikasi target dari jarak 8-10 km.
  • Dapat mengestimasi target pada jarak hingga 15 km.
Untuk target di permukaan
  • Dapat mendeteksi target sekelas tank secara efektif pada jarak hingga 15 km. Untuk kapal induk sekitar 60-80 km.
  • Mengidentifikasi jenis tank dari jarak 8-10 km. Untuk kapal perang sekitar 40-60 km.
  • Dapat mengestimasi target pada jarak hingga 20 km.

Untuk urusan radar, MiG-35 sudah mengadopsi radar Phazotron Zhuk-AE berkemampuan active electronically scanning aray (AESA). Radar ini sudah kompatibel dengan perangkat OLS yang menggantikan sensor IRST. Selain itu, sistem AESA mampu menangkal serangan ECM lawan, mendeteksi secara simulatan target di darat dan udara secara bersamaan, dan jarak deteksinya lebih jauh dari radar Zhuk-M. Untuk pertahanan defensif, perangkat seperti radio electronic reconnaissance, electronic counter measures, optronic systems, atau laser emission detector dapat dipasang pada tiap wing tip. Jika perangkat ini mendeteksi adanya rudal yang mengejar, sistem pertahanan defensif akan terhubung secara otomatis dengan decoy dispensers untuk segera melakukan pengecohan. Karena bersifat multifungsi, MiG-35 dapat menjalankan misi tempur berbeda sekali terbang pada kondisi cuaca apapun.

Tampilan kokpit pilot MiG-35D Fulcrum-F tampak dilengkapi dengan tiga LCD dengan ukuran yang cukup besar. Desain kokpitnya dirancang secara egronomik sehingga pilot dapat menerbangkan pesawatnya dengan nyaman.

Kokpit belakang MiG-35D untuk Weapons System Officer yang dilengkapi dengan empat LCD ukuran besar. MiG-35D dirancang sebagai pesawat multi-misi dengan misi utama sebagai pesawat serang darat dan anti-kapal, sehingga dibutuhkan dua awak untuk dapat mengoperasikan pesawat yang dilengkapi sistem terbang dan persenjataan yang kompleks. Selain itu MiG-35D juga dapat berfungsi sebagai pesawat latih-tempur.

Tampilan radar Zhuk-AE lansiran NIIR Phazotron pada hidung MiG-35D. Radar Zhuk-AE merupakan jenis Active Electronically Scanning Array (AESA) yang dapat mendeteksi 30 target dari jarak 130 km, dimana 6 diantaranya dapat langsung terkunci.

Lebih jauh lagi, RSK MiG bekerjasama dengan Elt Elettronica asal Italia akan mengembangkan multifunction self-protection jammer terbaru untuk MiG-35. Tentunya hal ini merupakan keinginan dari RSK MiG agar MiG-35 dapat menghadapi penempur-penempur Barat generasi keempat, bahkan generasi kelima. Untuk persenjataannya, MiG-35 dilengkapi dengan satu kanon Gryazev Shipunov GSh-30 kaliber 30 mm (150 peluru) dan sembilan pylon dengan jenis persenjataan yang biasa dibawa MiG-29 seperti rudal anti-pesawat AA-12 Adder, AA-11 Archer, AA-10 Alamo, hingga bom pintar KAB-500L/Kr dan rudal anti-kapal Kh-31A (AS-17 Krypton).

Tampilan layout MiG-35D Fulcrum-F lengkap dengan berbagai jenis avionik dan persenjataan yang dapat dipasang. Berdasarkan teknologi yang diusung, MiG-35D masuk kategori pesawat tempur generasi keempat + (plus) seperti halnya Rafale, F-16C Block-50, dan Eurofighter Typhoon.

Mesin Klimov RD-33MK
Sebagai sumber tenaga, RSK MiG mengadopsi mesin turbofan Klimov tipe RD-33MK yang juga mentenagai MiG-29K/KUB. Mesin ini mempunyai maximum thurst 9.000 kgf (RD-33 = 8.300 kgf) dan dilengkapi vector thrust nozzles yang dapat meningkatkan combat efficiency hingga 12-15%. Karena dipakai juga oleh varian Fulcrum-D, tentunya mesin ini dilengkapi lapisan anti korosi yang intensif. Hal yang sama berlaku juga pada setiap bagian vital pesawat. Alhasil MiG-35 dapat pula menjalankan misi tempur maritim layaknya Su-33 Flanker-D atau F/A-18E/F Super Hornet.

Tampilan mesin RD-33MK yang dirancang oleh Klimov OKB. Mesin ini dapat dilengkapi dengan perangkat vectored thrust nozzles yang dapat meningkatkan manuver tempur hingga 15%. Mesin RD-33MK juga tidak mengeluarkan asap (smokeless).

Spesifikasi MiG-35 Fulcrum-F
  • Kru : 1 (MiG-35) atau 2 (MiG-35D)
  • Panjang : 17,3 m
  • Lebar sayap : 12 m
  • Tinggi : 4,7 m
  • Berat kosong : 11.000 kg
  • Berat maksimum take-off : 29.700 kg
  • Mesin : 2 x Klimov RD-33MK afterburning turbofan. Daya dorong normal 53 kN/mesin
  • Kecepatan maksimum : 2.400 km/h (at altitude) atau 1.450 km/h (at sea level)
  • Ferry range : 3.100 km dengan tiga external fuel tanks
  • Combat range : 1.000 km
  • Tinggi : 4,7 m (15 ft 6 in)
  • Ketinggian maksimum : 19.000 m
  • Rate of climb : 330 m/s
  • TWR : 1,03
  • Senjata internal : 1 x kanon Gryazev Shipunov GSh-30-1 kaliber 30 mm dengan kapasitas 150 peluru
  • Hardpoints : Sembilan titik cantelan senjata dapat membawa muatan total seberat 6.500 kg dengan kombinasi rudal anti-pesawat, rudal serang darat, rudal anti-kapal, rudal anti-radiasi, berbagai jenis roket, bom pintar, dan bom konvensional
  • Rudal anti-pesawat (air to air missile) : R-27, R-73, R-77
  • Rudal serang darat (air to surface missile) : Kh-25MAE, Kh-29L/TE, Kh-35, Kh-38ME
  • Rudal anti-radiasi (anti-radiation missile) : Kh-31PD
  • Rudal anti-kapal (anti-ship missile) : Kh-31AD
  • Bom pintar : KAB-500Kr, KAB-500L, KAB-500S-E GLONASS
  • Bom konvensional : FAB-250, FAB-500
  • Roket : S-8, S-13, S-24, S-25

Jumat, 26 November 2010

Sukhoi Su-22M4 Fitter-K : The Last Fitter Variants

Secara umum, seluruh varian jet pembom-tempur buatan Uni Soviet ini setidaknya telah diproduksi sebanyak 2.867 unit antara tahun 1969-1990. Meski bukan lagi arsenal gress, keluarga Sukhoi Su-17/20/22 masih menjadi andalan di beberapa negara eks-Pakta Warsawa dan dunia ketiga. Salah satunya adalah Polandia yang mengoperasikan varian paling canggih, Su-22M4/5 Fitter-K.

Modernisasi Su-22M4 Fitter-K
Memasuki tahun 2010, sekitar 48 Su-22M4/UM3K masih menjadi kekuatan cadangan di jajaran armada tempur AU Polandia yang sudah diperkuat arsenal terbaru, F-16C/D Block-52. Varian Su-22M4 (nickname NATO = Fitter-K) merupakan varian terakhir dan tercanggih dari keluarga Fitter. Selain sebagai pesawat penyerang darat, Su-22M4 AU Polandia juga diberikan tugas sebagai pengintai dengan membawa pod kamera KKR-1 (bekas pakai Su-20R). Saat ini sisa armada Su 22M4/UM3K tergabung di unit 8th Tactical Squadron, Miroslawiec Air Base.

Sebuah Su-22M4 Fitter-K dari unit 7th Tactical Squadron AU Polandia bersiap mendarat usai melakukan atraksi terbang rendah pada acara Radom Air Show 2002. Memasuki tahun 2012, AU Polandia masih mengoperasikan sejumlah Su-22M4/M5/UM3K.

Dengan bergabungnya Polandia menjadi anggota NATO, maka suka tidak suka AU Polandia harus menyelaraskan arsenal yang dimiliki dengan standar NATO. Untuk itu sebagian armada Su-22M4 dilengkapi dengan berbagai avionik buatan Barat seperti HUD, ILS, INS, TACAN, HOTAS, GPS, hingga dipasangi radar Phantom lansiran Thomson CSF dan Phazotron. Radar Phantom dipasang untuk menggantikan perangkat laser rangefinder Klen-54. Su-22M4 hasil upgrade ini dikenal sebagai Su-22M5. Meski uzur, armada Su-22M4 Fitter-K AU Polandia masih bisa diandalkan dalam beberapa tahun ke depan sambil menunggu armada F-16C/D operasional secara penuh. Selain varian Su-22M4/5, AU Polandia juga mengoperasikan beberapa versi latih Su-22UM3K Fitter-G yang juga menjalani paket upgrading pada perangkat navigasi serta komunikasinya. Selain AU Polandia, negara eks-Pakta Warsawa terakhir yang diketahui masih menyimpan armada Su-22 Fitter kemungkinan adalah AU Slovakia (varian Su-22M4/UM3K). Di luar eks-Pakta Warsawa, negara yang masih aktif mengoperasikan keluarga Fitter (berdasarkan data tahun 2011) antara lain Angola (Su-22M4), Libya (Su-22M3/M4/UM3K), Vietnam (Su-22M4/UM3K), dan Peru (Su-22M4/UM3K).

Dinasti Keluarga Fitter
Pada tahun 1963, seorang teknisi dari Sukhoi OKB bernama Nikolai Zyrin melakukan modifikasi penggunaan sayap sayung (variable geometry wing) pada varian Su-7BM Fitter-A. Sayap utamanya bisa diposisikan dalam tiga sudut derajat, yakni 28, 45, dan 62. Pengaturannya masih menggunakan tuas alias manual. Su-7BM hasil modifikasi ini dikenal sebagai Su-7IG Fitter-B dan terbang perdana 2 Agustus 1966 dengan pilot uji Vladimir Ilyushin. Setelah melakukan beberapa penyempurnaan, Sukhoi OKB kemudian melansir Su-17 Fitter-B dengan mesin Lyulka AL-7F-1 (thrust  = 9.000 kg atau 19.841 lb) pada tahun 1969, disusul tipe Su-17M Fitter-C pada tahun 1971. Fitter-C menggunakan mesin baru Lyulka AL-21F-3 (thrust = 11.500 kg atau 25.300 lb) dan diekspor ke Mesir, Polandia, dan Syria dengan kode Su-20.

Sebuah Su-20R milik AU Polandia tengah diparkir di landasan Pangkalan Udara Slupsk, Mei 1992. Su-20R merupakan varian intai-tempur yang biasa membawa tabung kamera KKR-1.

Selain itu dibuat pula versi pengintainya, yakni Su-17R Fitter-C (kode ekspor = Su-20R) yang membawa tabung kamera KKR-1. Akhir Desember 1973, Sukhoi OKB kembali melansir varian terbaru, yakni tipe Su-17M2 Fitter-D (kode ekspor = Su-20M) yang dilengkapi berbagai avionik canggih untuk ukuran Rusia saat itu macam laser rangefinder ASP-17, RSBN-6S short-range navigation, dan radar navigasi DISS-7.

Su-22M2 Fitter-F AU Peru dengan kamuflase hutan tropis. Pada tanggal 24 April 1992, Su-22M2 AU Peru menyerang satu pesawat kargo C-130H Hercules USAF dan menewaskan satu orang awaknya. Aksi lainnya adalah saat meletus Perang Peru-Ekuador (Alto Cenepa War) tahun 1995, dimana dua Su-22M2 AU Peru berhasil ditembak jatuh dua Mirage F-1 AU Ekuador pada tanggal 10 Februari 1995.

Tanggal 31 Januari 1975, varian Su-17M2D bermesin Tumansky R-29BS-300 (thurst = 12.000 kg atau 26.400 lb) berhasil terbang perdana. Varian ini diekspor antara lain ke Irak dan Peru dengan kode Su-22 Fitter-F. Kelak AU Peru meng-upgrade armada Su-22 miliknya menjadi varian Su-22M2 Fitter-F yang dilengkapi refuelling probe. Selain itu Sukhoi OKB juga melansir varian latih dari Su-17M2, yakni Su-17UM Fitter-E. Berdasarkan Fitter-E, diturunkan pula varian Su-17M3 Fitter-H. Pada varian ini ruang kokpit bagian belakang dijadikan internal fuel tank dengan kapasitas 4.850 liter. Avionik yang digunakan pun lebih canggih, seperti pemasangan perangkat Klen-54 laser rangefinder dan upgading wiring system yang memungkinkan pemasangan dua rudal air to air R-60 (kode NATO = AA-8 Aphid) atau R-3S (AA-2 Atoll). Versi ekspor Su-17M3 (untuk negara dunia ketiga) yang kemampuan avioniknya dikurangi dikenal sebagai Su-22M Fitter-J. Avionik Su-22M setara dengan Su-17M2 Fitter-D, namun mesin yang digunakan tipe R-29. Sedangkan varian ekspor Su-17M3 untuk negara Pakta Warsawa dikenal sebagai Su-22M3 Fitter-J. Semua versi ekspor Su-17 tidak bisa membawa senjata nuklir.

Varian latih-tempur Su-22UM3K Fitter-G dari unit 7th Tactical Squadron AU Polandia. Varian ini memiliki kokpit dengan awak ganda untuk keperluan latih maupun tempur penuh. Su-22UM3K ini merupakan pengembangan dari varian Su-22UM Fitter-E.
Varian Su-22M4 Fitter-K dengan grafiti spesial tengah bersiap untuk melakukan demo udara bersama varian Su-22UM3K Fitter-G pada acara Radom air Show 2002. Keduanya merupakan armada tempur 7th Tactical Squadron AU Polandia.

Tahun 1978 Sukhoi OKB membuat varian latih dari Su-17M3, yakni Su-17UM3 Fitter-G. Varian ekspornya yang menggunakan mesin Tumansky R-29 dikenal sebagai Su-22UM3, sedangkan yang memakai mesin Lyulka AL-21 diberi kode Su-22UM3K. Terakhir Sukhoi OKB melansir Su-17M4 Fitter-K (kode ekspor = Su-22M4) yang terbang perdana 19 Juni 1980 dengan pilot uji Yuri A. Yegorov. Kokpit pada varian Fitter-K dipenuhi avionik terbaru seperti perangkat navigasi RSDN (setara LORAN buatan AS), INS, Klen-54 laser rangefinder, RWR tipe SPO-15LE Sirena, hingga pod BA-58 Vjuga untuk memandu penembakan anti-radiation missiles macam Kh-28 (kode NATO = AS-9 Kyle), Kh-25ML (kode NATO = AS-11 Karen), serta Kh-29L/T (kode NATO = AS-14 Kedge). Terakhir muncul varian Su-22M5 hasil upgrade Su-22M4 dengan avionik Perancis.

Pengalaman Perang
Cerita seru tentang keluarga Fitter di medan perang terjadi saat terjadinya Insiden Teluk Sidra (19 Agustus 1981) dimana dua Su-22M3 AU Libya ditembak jatuh dua F-14A Tomcat US Navy. Selain itu Fitter terlibat juga dalam berbagai pertempuran di dunia seperti Perang Afghanistan (1979-1988), Perang Iran-Irak (1980-1988), Perang Angola (1975-1988), Perang Teluk-I (1990-1991), dan Konflik Peru-Ekuador (1995). Sayangnya prestasi tempurnya agak suram. Seringkali Fitter harus berhadapan dengan jet tempur spesialis dogfight atau rudal anti-pesawat portabel (MANPADS) yang letal macam Stinger, SA-7, hingga Blowpipe. Di Afghanistan, tiga Su-22M3 berhasil dirontokkan F-16A Pakistan dan belasan lainnya oleh rudal Stinger Mujahidin. Puluhan Fitter Irak juga berhasil dirontokkan oleh F-14A Iran selama perang Iran-Irak dan F-15C USAF pada Perang Teluk-I. Terakhir, dua Su-22M2 milik AU Peru berhasil dirontokkan Mirage F-1JA AU Ekuador tanggal 10 Februari 1995 saat berlangsungnya Alto Cenepa War. Saat ini negara-negara yang masih mengoperasikan Su-22 seperti Angola, Libya, dan Yaman masih aktif menggunakannya untuk menggempur kelompok-kelompok perlawanan dalam negeri.

Salah satu dari delapan Su-22M4 Fitter-K AU Angola yang masih operasional hingga saat ini (2010). Pesawat-pesawat Su-22M4 Angola merupakan bekas pakai AU Cekoslovakia yang dijual pada tahun 1993.
Dua Su-22M3 Fitter-H dari Skadron Pembom-Tempur 1032 AU Libya sedang disiapkan untuk mengikuti demo terbang dalam acara Libyan Aviation Confrence & Exhibition 2009 di Pangkalan Udara Mitiga, Tripoli. Saat terjadi perang saudara tahun 2011, Rezim Moamar Khadafi banyak menggunakan armada Fitter untuk menggempur posisi gerilyawan oposisi sebelum akhirnya dihentikan oleh serangan udara balasan dari NATO.

Operator Su-17/20/22
Total 2.867 Su-17 beserta turunannya diproduksi oleh Sukhoi OKB, dimana 1.165 diantaranya diekspor ke 17 negara. Varian Su-17M, Su-22M, dan Su-22M3 merupakan varian yang paling banyak diproduksi, yakni sekitar 1.000 unit. Berikut ini negara yang pernah mengoperasikan Su-17/20/22 : CIS (Armenia, Azerbaizan, Belarusia, Rusia, Turkmenistan, Uzbekistan, Ukraina), Afghanistan, Aljazair, Angola, Bulgaria, Cekoslovakia, Hungaria, Irak, Iran, Jerman Timur, Korea Utara, Libya, Mesir, Peru, Polandia, Syria, Vietnam, dan Yaman.

Dua Su-22M4 Fitter-K AU Republik Ceko mendarat di Pangkalan Udara RAF Fairford (Inggris) untuk mengikuti acara International Air Tatoo 1995. AU Republik Ceko memensiunkan sisa armada Fitter-nya yang terdiri dari 31 Su-22M4 dan 5 Su-22UM3K pada tahun 2002.

Spesifikasi Su-22M4 Fitter-K
  • Kru : 1 (pilot)
  • Panjang : 19,02 m 
  • Lebar sayap : 13,68 m (spread) atau 10,02 m (swept)
  • Luas sayap : 38,50 meter square (spread) atau 34,50 meter square (swept)
  • Tinggi : 5,12 m
  • Berat kosong : 12.160 kg
  • Berat maksimum : 16.400 kg
  • Berat maksimum take-off : 19.430 kg
  • Mesin : 1 x Lyulka AL-21F-3 afterburning turbojet dengan daya dorong maksimum 109,8 kN atau daya dorong normal 76,4 kN
  • Kecepatan maksimum : 1.860 km/h (at altitude)
  • Radius tempur : 1.150 km ( mode hi-lo-hi dengan muatan senjata 2.000 kg)
  • Ketinggian maksimum : 14.200 m
  • Rate of climb : 230 m/s
  • TWR : 0,68
  • G-force limit : 7g
  • Airframe lifespan : 2.000 jam
  • Senjata internal : 2 x Nudelman Rikhter NR-30 kaliber 30 mm (80 peluru/kanon)
  • Payload : 4.000 kg untuk muatan senjata dan tanki bahan bakar eksternal
  • Rudal anti-pesawat (air to air missile) : R-3S, R-60, R-73
  • Rudal serang darat (air to surface missile) : Kh-23, Kh-25ML, Kh-29L/T/D
  • Rudal anti-radiasi (anti-radiation missile) : Kh-27PS, Kh-28, Kh-58
  • Cannon pod : SPPU-22-01
  • Bom : hampir semua jenis bom konvensional dan bom pintar standar Uni Soviet bisa dibawa pada cantelan senjatanya
  • Roket : S-5, S-8, S-13